Mor Geram saat Temukan Surat Izin Palsu di Laporan BP2T

Rabu, 24 Agustus 2016 17:31 WITA
Mor Geram saat Temukan Surat Izin Palsu di Laporan BP2T
TRIBUNMANADO/FELIX TENDEKEN
Wakil Wali Kota Manado Mor Dominus Bastiaan (Mor) rapat perizinan di ruang Toar Lumimuut Kantor Wali Kota Manado, Selasa (23/8). 

Laporan wartawan Tribun Manado Felix Tendeken

BAGHUMASPRO - Wakil Wali Kota Manado Mor Dominus Bastiaan (Mor), menemukan satu surat izin palsu di Badan Pelayan Perizinan Terpadu (BP2T) Kota Manado dalam rapat perizinan di ruang Toar Lumimuut Kantor Wali Kota Manado, Selasa (23/8).

Hal tersebut disinyalir adalah kesalahan kerja diluar sistem internal yang melibatkan orang dalam di bagian bidang perizinan, sehingga terbuka celah untuk melakukan pemalsuan tanda tangan Kepala BP2T Bismark Lumentut.

Hal tersebut menimbulkan tanda tanya bagi Mor Bastian.

Atas kejadian tersebut dirinya mengaku kecewa, apalagi ada beberapa surat izin SKR, SIUP TDUP, yang masih ditahan berbulan bulan dan belum dicetak.

"Lagi tunggu apa, adakah sesuatu yang ditunggu?," kata Mor menyinggung.

Selain beralasan mesin cetak tidak bisa mencetak surat izin tanpa alasan jelas, staff BP2T belum juga menepati janji mereka untuk penerbitan akun sosial layanan terpadu.

Padahal hal tersebut sudah di janjikan jauh hari sebelumnya diamana sudah sebulan berlalu tanpa kejelasan.

Akibatnya Mor marah besar kemudian meminta agar minggu depan program yang dijanjikan harus segera dilaunching.

Sebelum datang rapat juga harus memastikan bahwa masalah perizinan dalam kondisi nol atau telah selesai.

"Apa mesin cetak hanya bisa cetak pahatan di atas batu, begitu?," tanya Mor dengan wajah kecewa.

Jawaban yang berbelit-belit dengan wajah gugup, semakin membingungkan Wakil Wali Kota manado pilihan rakyat ini.

Pasalnya tidak ada yang mau mengaku dan saling lempar bola.

Akibatnya Mor berjanji tidak akan membiarkan ada lagi oknum yang main belakang, dengan cara menerima suap, tidak turun lapangan dan memalsukan izin-izin usaha dan sebagainya.

"Semakin anda tanya maka semakin saya kejar," kata Mor geram.

Wawali juga meminta agar kepala bidang dan penanggung jawab program membawa bukti buku tanda terima, agar laporan tidak berbeda-beda. Sehingga proses pemeriksaan data validasi yang akan dilakukan oleh dirinya, tidak kacau balau dengan jawaban berbeda-beda.

Kemudian wajib membuat agenda dalam proses perizinan tersebut baik Asisten satu, serta kepala badan harus bertangung jawab atas laporan terkait.

"Mahal sekali tandatangan kepala bidang, ini sungguh luar biasa bagi saya," kata Mor.

Dirinya meminta agar setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) menjelaskan proses persyaratan kepada BP2T sebagai badan terkait. Dengan catatan tidak ada syarat yang dibuat-buat yang memberatkan orang yang mengurusnya. Kemudian mementingkan proses teknis dan sebagainya.

Untuk mendukung rencana pengawasan dan penataan kembali sistem yang kacau, maka mereka (Pemkot) akan membentuk tim terpadu.

Kemudian jika pengawas biasanya ada batas waktu untuk kerja, namun mereka akan berfungsi dengan waktu yang lama, bahkan bisa bertahun-tahun sampai kerja instansi ini menjadi lurus.

"Buat draftnya, lusa harus selesai nanti saya tandatangani Surat Keputusannya (SK)," kata Mor.

Mengenai biaya operasional bagi dia itu tidak menjadi masalah karena semua ada jalan keluar, apakah akan menggunakan anggaran di instansi masing-masing, atau ada usulan dalam perubahan anggaran.

Jika tidak ada solusi bisa menggunakan anggaran pribadinya, sebab dia ingin masalah ini tidak berlarut-larut dan ada solusinya.

"Harus ada Standar Operasional (SOP), kalau boleh libatkan anggota kepolisian. Kedepan saya akan pelajari maslaah ini," kata Mor.

Dirinya meminta agar tidak ada lagi kegiatan gratifikasi baik di dinas pariwisata, dinas kebersihan, disperindag, tata kota, BLH, dan seluruh SKPD yang ada.

Jika nanti ditemukan maka akan diproses secara hukum sehingga tidak ada lagi yang menimbulkan atau menjadi pemicu masalah yang sama.

"Kalau ada masalah seperti ini dan kepala SKPD tidak aktif maka saya anggap ia kolusi atau terlibat,"kata Mor.

Sementara itu Kaban BP2T Bismark Lumentut pilih mengambil langkah 1000 meninggalkan lokasi tersebut.

Dirinya terlihat kecewa dengan aksi pemalsuan tanda tangannya, yang pada akhirnya membawa dirinya pada masalah yang tidak pernah diinginkannya.

"Nanti jo neh,"kata dia kemudian berlalu tanpa mau dikonfirmasi

Editor: Advertorial
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
3798 articles 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2018
Atas