Mengenal Manado Rumah Kita

Minggu, 4 Oktober 2015 22:49 WITA
Mengenal Manado Rumah Kita
Pemkot Manado

BAGHUMASPRO - Manado rumah kita adalah kalimat awal di dalam tema yang ditetapkan oleh Pemerintah Kota Manado dalam rangka merayakan HUT Kota Manado ke-392 pada tahun 2015.

Penggalan tema ini memiliki makna yang mendalam. Mendalam karena mengingatkan dan menyadarkan seluruh warga kota Manado agar memiliki kepedulian dan kepekaan sosial, yaitu mencintai kota Manado sebagai rumah kita; sebagai tanah tempat tumpah darah; tempat hidup dan menjalani kehidupan; siapa pun pasti bangga dan kagum menyaksikan lingkungan alamnya yang indah, adat istiadat, warisan kepribadian leluhur, aneka kuliner, dan atraksi wisata budayanya seperti maengket dan masamper yang menarik dan unik.

Semangat torang samua basudara, sikap ramah, murah senyum, dan alam bawah laut Bunaken telah mengharumkan nama Manado sebagai rumah kita. Keindahan bawah laut Bunaken, pantai Malalayang, Boulevard, atraksi budaya, ikan purba Coelacanth dan tinutuan kagumkan wisatawan dunia. Manado Tua, Siladen, gunung Tumpa, teluk Manado dan pegunungan yang mengelilingi menghiasi alamnya. 

Manado rumah kita, tidak hanya milik kita, tetapi dirindukan oleh setiap orang. Suasana aman, damai dan sentosa semakin menarik orang luar untuk mengenal kota Manado sebagai rumah kita. Peace, health, prosperity dan happiness (PHPH), adalah empat hal utama yang membuat Manado dinilai baik dan berhasil. 

Mapalus Kamtibmas, Deklarasi Kamtibmas 7 Agustus 2014 dan keberadaan Pos Kamling di setiap lingkungan, adalah wujud nyata kepedulian masyarakat dan pemerintah menciptakan suasana yang penuh perdamaian (peace) dan aman.

Dari aspek kesehatan (health), pemerintah kota Manado telah menjamin kesehatan masyarakat melalui program Universal Coverage. Dari aspek kesejahteraan (prosperity), pemerintah kota Manado memberikan insentif kepada para tokoh agama, kepala lingkungan (pala), petugas kebersihan; bantuan dana duka dan sewa rumah kepada keluarga korban banjir 15 Januari tahun 2014.

Apa yang dilakukan oleh masyarakat, pemerintah dan DPRD untuk membangun Manado sebagai rumah kita tidak hanya sekedar ide dan teori, tapi nyata dan terbukti. 

Manado rumah kita dahulu dikenal dengan nama Wenang. Nama Wenang sampai kini tetap dikenang oleh masyarakat Minahasa sebagai mayoritas penduduk kota Manado. Bila hendak ke Manado, orang Tondano berkata, ‘Mae ki Wenang’. Orang Tombulu berkata, ‘Meros ti Wenang’. Orang Langowan berkata, ‘Mongem Wenang’. 

Perubahan nama Wenang menjadi Manado menurut Prof. Geraldine Manoppo-Watupongoh dilakukan oleh orang Spanyol. Menurutnya, kata Manado diambil dari nama pulau di sebelah Bunaken, yaitu pulau Manado yang banyak disebut-sebut oleh bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda di dalam memori serah terima dan surat-surat penting lainnya.

Manado yang dimaksud adalah Manado Tua. Kata ‘Tua’ ditambahkan untuk membedakan Manado di laut dan di darat, juga dimaksudkan agar Manado di laut (Manado Tua) tidak kehilangan nilai sejarahnya. 

Secara geografis, kota Manado terletak di ujung jazirah utara pulau Sulawesi; beriklim tropis dengan suhu rata-rata 24-27 derajat Celcius. Memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Curah hujan rata-rata 3.187 mm/tahun dengan iklim terkering sekitar bulan Agustus dan terbasah pada bulan Januari.

Intensitas penyinaran matahari rata-rata 53%. Kelembaban nisbi udara relatif tinggi; rata-rata berkisar antara 71 persen pada bulan September hingga 86 persen pada bulan Januari-Februari. Suhu udara maksimum 34,9 derajat Celcius terjadi pada bulan Oktober, sedangkan suhu udara minimum 19,1 derajat C terjadi pada bulan September.

Manado rumah kita sampai tahun 1947 masih merupakan bagian dari wilayah Minahasa. Memiliki luas wilayah sebesar 1,03 persen dari luas provinsi Sulawesi Utara. Menurut Fendy E.W. Parengkuan, luas kota Manado sejak tahun 1926 sampai masa pendudukan Jepang dan masa revolusi hanya 10,62 km persegi.

Namun pada tahun 1927 wilayah kota Manado diperluas. Tomohon adalah salah satu distrik yang digabungkan ke distrik Manado, berlangsung sampai tahun 1944. Tahun 1951, distrik Manado terdiri dari distrik Bawahan Manado Utara Luar Kota (kecamatan Wori) dan distrik Manado Selatan Luar Kota (kecamatan Pineleng).

Beberapa tahun kemudian, luas Manado bertambah menjadi 2.369 hektar (23,69 km persegi), dan pada tahun 1988 bertambah lagi menjadi 15.726 hektar (157,26 km persegi) hingga saat ini. 

Sejak Manado rumah kita memilih ekowisata sebagai konten visi, ritme pembangunan bergerak dengan cepat. Hotel, penginapan, supermarket dan restoran bertambah. Jumlah kunjungan wisatawan meningkat. Dari waktu ke waktu, Manado rumah kita makin beda. 

Visi Manado Kota Model Ekowisata dibawa kepemimpinan Walikota, Dr. Ir. G S. Vicky Lumentut, SH, M.Si, DEA dan Wakil Walikota, Dr. Harley Alfredo Benfica Mangindaan, SE, MSM. Itu merupakan pilihan yang tepat untuk mempercepat usaha pengembangan dan pertumbuhan ekonomi.

Beberapa tahun ke depan, Manado rumah kita dengan sejumlah potensi unggulan yang dimiliki sangat prospektif dan memiliki peluang menjadi kota maju dan besar dibawa kepemimpinan yang mengakui perbedaan sebagai hal yang indah dan mengandung nilai kehidupan. 

Manado rumah kita merupakan kota terbuka dan telah menjadi melting point bagi berbagai kepentingan banyak orang yang datang mendiaminya.

Dari berbagai literatur ditemukan bahwa Manado rumah kita tidak hanya menjadi sejarah dari satu etnis atau sub etnis, tetapi merupakan kota yang terdiri dari beragam etnis, yang menghargai nilai kearifan lokal ‘Torang Samua Basudara’ yang telah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat. 

Walaupun Manado rumah kita pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda sudah ramai dikunjungi; namun sampai tahun 1934, Manado masih terdiri dari satu distrik dan dua Distrik Kedua (setingkat kecamatan), yaitu onderdistrik Zuid Manado (Manado Selatan) dan onderdistrik Noord Manado (Manado Utara).

Kemudian selanjutnya berkembang menjadi tiga wilayah dengan sebutan kecamatan, yaitu kecamatan Manado Utara, Tengah dan Selatan; lalu menjadi 5 kecamatan, kemudian menjadi 9 kecamatan, dan saat ini telah menjadi 11 kecamatan. 

Pada tahun 1919, Manado menjadi kota Haminte (pemerintahan kotapraja pada masa pendudukan Hindia-Belanda) dan memiliki dewan kota berdasarkan Staatsblad (lembaran negara) Hindia-Belanda Nomor 225 tanggal 1 Juli 1919.

Pada tahun 1824, berdasarkan keputusan gubernur jenderal Van der Cepellen, tanggal 14 Juni 1824, Nomor 10 (Staatsblad 28 a), Manado ditetapkan menjadi keresidenan defenitif yang lepas dari Ternate. Johanes Wensel ditunjuk sebagai residennya. 

Sejak masa kemerdekaan, Manado rumah kita telah beberapa kali mengalami perubahan sebutan berdasarkan kategori sebagai kota. Semula masuk dalam kategori kotapraja (1957-1958), Daerah Tingkat II (1958-1965), Kotamadya (1965-1974), Kotamadya Daerah Tingkat II (1974-1999), Kota Manado (sejak tahun 1999 sampai saat ini). 

Hari lahir Manado rumah kita ditetapkan tanggal 14 Juli 1623. Tanggal 14 diambil dari peristiwa heroik 14 Pebruari 1946 di kota Manado, yang dikenal dengan nama Peristiwa Merah Putih, yaitu kebangkitan putra daerah mempertahankan kemerdekaan dengan cara menentang penjajahan pemerintah kolonial Hndia Belanda. 

Bulan Juli diambil dari unsur yuridis. Pada bulan Juli 1919, Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengeluarkan besluit Manado sebagai Gemente. Tahun 1623 diambil dari unsur historis, yaitu saat nama Manado dikenal dan digunakan dalam surat-surat resmi. 

Manado rumah kita. Nikmat dan anugerah diberi yang Kuasa. Hidup damai dan tentram banyak dicontoh dari rumah kita. Haruskah kita beranjak ke tempat yang merasa terancam dengan perbedaan.

Menghargai perbedaan bukan kerena pilihan, tapi perlu. Gemakan semangat Torang Samua Basudara, jangan jadi sayup. Manado rumah kita, sirami dengan kasih dan hidup damai, agar keberagaman berakar kuat. (baghumaspro/soleman montori)

Penulis: Humas Pemkot Manado
Editor: Advertorial
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
2218 articles 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2020
Atas